BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

 

Di dalam dunia pendidikan program inovasi menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan. Munculnya inovasi pendidikan dilatarbelakangi oleh tantangan untuk menjawab masalah-masalah krusial dalam bidang pendidikan; pengelolaan sekolah, kurikulum, siswa, biaya, fasilitas, tenaga maupun hubungan dengan masyarakat. Inovasi pendidikan yang berlangsung di sekolah dimaksudkan untuk menjawab masalah-masalah pendidikan yang terjadi di sekolah guna mendapatkan hasil yang terbaik dalam mendidik siswa. Banyak usaha yang dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya pembaruan atau inovasi pendidikan antara lain : dalam hal manajemen pendidikan, metode pengajaran, media, sumber belajar, pelatihan guru, implementasi kurikulum, dan sebagainya.

Secara umum ada dua model inovasi pendidikan, yaitu model “top down innovation” dan model “bottom up innovation”. Model pertama adalah suatu inovasi yang datang dari atas atau yang diciptakan oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang disponsori oleh lembaga-lembaga asing. Inovasi ini sengaja diciptakan oleh oleh Depdiknas selaku inovator dan regulator di bidang pendidikan sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan sebagainya.

Kedua, adalah inovasi model “bottom up innovation”, yaitu model inovasi yang diciptakan berdasarkan ide, kreasi, dan inisiatif sendiri oleh suatu lembaga pendidikan seperti sekolah, universitas, guru, dosen, dan sebagainya. Model bottom up innovation ini lebih banyak dilakukan di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi swasta dibanding sekolah atau perguruan tinggi negeri, karena sistem pengambilan keputusan yang sentralistis. Misalnya, suatu sekolah melakukan inovasi tentang efektifitas pembelajaran dengan menggunakan media atau alat transformasi pelajaran seperti komputer dan infocus dalam setiap kelas. Dalam hal ini kewenangan atau otoritas sekolah yang bersangkutan lebih menonjol dan dapat mengambil keputusan sendiri sepanjang tidak melanggar kaidah-kaidah normatif.

Di samping kedua model yang umum tersebut di atas, ada hal lain yang muncul tatkala membahas inovasi pendidikan yaitu kendala-kendala, faktor-faktor seperti guru, siswa, kurikulum, fasilitas, dana, dan lingkup sosial masyarakat.

 

1.2    Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah mengenai perlunya program inovasi di lingkungan pendidikan sebagai berikut :

  1. Apa yang di maksud inovasi pendidikan?
  2. Apa saja tujuan yang ingin dicapai dalan inovasi pendidikan?
  3. Apa saja masalah-masalah yang menuntut adanya inovasi?
  4. Apa saja faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam inovasi?
  5. Bagaimana karakteristik dalam inovasi?
  6. Apa saja kendala-kendala dalam melakukan inovasi pendidikan?
  7. Mengapa inovasi sering ditolak?
  8. Bagaimana cara pelaksanaan inovasi pendidikan?

 

8.3    Tujuan Penulisan

Tujuan penlisan makalah ini, selain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen Inovasi Pendidikan, juga diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang yang hidup di kalangan pendidikan untuk senantiasa menciptakan inovasi guna meningkatkan kualitas pendidikan yangb lebih baik.

 

8.4      Manfaat Penulisan

Semoga makalah ini dapat mengetuk pintu hati dan membuka mata para pejabat pemerintah, guru-guru, para orang tua serta orang-orang yang bertanggung jawab dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Negara Indonesia.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 2.1 . Pengertian Inovasi Pendidikan

Inovasi seringkali diartikan pembaharuan, penemuan dan ada yang mengaitkan dengan modernisasi. Menurut Nicholls (1982: 2) penggunaan kata perubahan dan inovasi sering tumpang tindih. Pada dasarnya inovasi adalah ide, produk, kejadian atau metode yang dianggap baru bagi seseorang atau sekelompok orang atau unit adopsi yang lain. Baik itu hasil invensi maupun hasil discovery. (Ibrahim, 1998: 1 ; Hanafi, 1986: 26 ; Rogers, 1983: 11).

Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil karya manuasia. Discovery adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam kaitan ini Ibrahim (1989) mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Inovasi dapat berupa hasil dari invention atau discovery. Inovasi dilakukan dengan tujuan tertentu atau untuk memecahkan masalah (Subandiyah 1992:80).

Dalam kaitan ini inovasi dapat diartikan sebagai penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Inovasi dapat berupa hasil dari invention atau discovery. Inovasi dilakukan dengan tujuan tertentu atau untuk memecahkan masalah (Subandiyah 1992:80).

Secara etimologi inovasi berasal dari kata latin innovation yang berarti pembaruan dan perubahan. Kata kerjanya innovo yang artinya memperbarui dan mengubah. Inovasi ialah suatu perubahan yang baru menuju ke arah perbaikan; yang lain atau berbeda dari yang ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana. (Ihsan: 1991). Inovasi ialah suatu perubahan yang baru dan bersifat kualitatif, berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka pencapaian tujuan tertentu dalam pendidikan. Istilah perubahan dan pembaruan ada perbedaan dan persamaannya. Perbedaannya, kalau pada pembaruan ada unsur kesengajaan. Persamaannya yakni sama–sama memiliki unsur yang baru atau lain dari sebelumnya.

Kata “baru“ dapat juga diartikan apa saja yang baru dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi, meskipun bukan baru lagi bagi orang lain. Namun setiap yang baru itu belum tentu baik untuk setiap situasi, kondisi dan tempat. Jadi inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil invention (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan.

Berdasarkan pengertian inovasi di atas, maka inovasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu perubahan (baru), gagasan, dan bersifat kualitatif dalam rangka memecahkan masalah pendidikan.

2.2     Tujuan Inovasi Pendidikan

Menurut santoso (1974) tujuan utama inovasi, yakni meningkatkan sumber-sumber tenaga, uang dan sarana termasuk struktur dan prosedur organisasi. Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas : sarana serta jumlah peserta didik sebanyak-banyaknya dengan hasil pendidikan sebesar-besarnya (menurut kriteria kebutuhan peserta didik, masyarakat dan pembangunan) dengan menggunakan sumber, tenaga, uang, alat dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya.

Kalau dikaji, arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap demi tahap, yaitu :

  1. Mengejar ketinggalan-ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan tekhnologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajar dengan kemajuan-kemajuan tersebut.
  2. Mengusahakan terselenggarakannya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga Negara, misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.

Disamping itu, akan diusahakan peningkatan mutu yang dirasakan makin menurun dewasa ini. Dengan sistem penyampaian yang baru, diharapkan peserta didik menjadi manusia yang aktif, kreatif dan terampil memecahkan masalahnya sendiri.

 

Adapun tujuan inovasi pendidikan di Indonesia pada umumnya adalah :

  1. Lebih meratanya pelayanan pendidikan
  2. Lebih serasinya kegiatan belajar
  3. Lebih efisien dan ekonomisnya pendidikan
  4. Lebih efektif dan efisiensinya sistem penyajian
  5. Lebih lancar dan sempurnanya sistem informasi kebijakan
  6. Lebih dihargainya unsur kebudayaan nasional
  7. Lebih kokohnya kesadaran, identitas dan kesadaran nasional
  8. Tumbuhnya masyarakat gemar belajar
  9. Tersebarnya paket pendidikan yang memikat, mudah dicerna dan mudah diperoleh

10. Meluasnya kesempatan kerja

2.3     Masalah-Masalah yang Menuntut Adanya Inovasi

Pendidikan kita dewasa ini menghadapi berbagai tantangan dan persoalan. Adapun masalah-masalah yang menuntut diadakan inovasi di Indonesia, yaitu :

  1. Bertambahnya jumlah penduduk yang sangat cepat dan sekaligus bertambahnya keinginan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang secara kumulatif menuntut tersedianya sarana pendidikan yang memadai.
  2. Berkembangnya ilmu pengetahuan yang modern menghendaki dasar-dasar pendidikan yang kokoh dan penguasaan kemampuan terus menerus dan dengan demikian menuntut pendidikan yang lebih lama sesuai dengan konsep pendidikan seumur hidup (long education).
  3. Berkembangnya tekhnologi yang mempermudah manusia dalam menguasai dan memanfaatkan alam dan lingkungannya, tetapi yang sering kali ditangani sebagai suatu ancaman terhadap kelestarian peranan manusiawi.

 

  1. Tantangan-tantangan di atas lebih berat lagi dirasakan karena berbagai persoalan datang baik dari luar maupun dari dalam system pendidikan itu sendiri, yaitu di antaranya :
    1. Sumber-Sumber yang makin terbatas dan belum dimanfaatkannya sumber yang ada secara efektif dan efisien.
    2.  Sistem pendidikan yang masih lemah dengan tujuan yang masih kabur, kurikulumnya belum serasi, relevan, suasana belum menarik dan sebagainya.
    3.  Pengelolaan pendidikan yang belum mekar dan mantap dan belum peka terhadap perubahan dan tuntutan keadaan, baik masa kini maupun masa akan datang.

Berdasarkan masalah-masalah di atas maka muncul beberapa hal yang mempengaruhi inovasi pendidikan, yakni:

1. Visi terhadap pendidikan

Pendidikan merupakan persoalan asasi bagi manusia. Manusia sebagai makhluk yang dapat dididik dan harus dididik akan tumbuh menjadi manusia dewasa dengan proses pendidikan yang dialaminya. Usaha dan tujuan pendidikan dilandasi oleh pandangan hidup orang tua, lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan, masyarakat dan bangsanya. Manusia Indonesia,warga masyarakat dan warga Negara yang lengkap dan utuh harus dipersiapkan sejak anak masih kecil dengan upaya pendidikan. Tujuan pendidikan diabdikan untuk kebahagiaan individu, keselamatan masyarakat, dan kepentingan negara.

Pandangan hidup bangsa menjadi norma pendidikan nasional keseluruhan. Seperti diketahui bahwa kehidupan ini selalu mengalami pergeseran dan peningkatan serta perubahan sesuai dengan waktu, keadaan dan kondisinya. Dengan demikian, pandangan dan harapan orang tua terhadap pendidikan sekarang dapat berbeda dengan pandangan orang terhadap pendidikan masa lampau atau waktu yang akan datang.

2. Faktor pertambahan penduduk

Pertambahan penduduk yang cepat merupakan faktor yang sangat menentukan dan berpengaruh besar terhadap penyelenggaraan pendidikan sehingga menuntut adanya pembaruan-pembaruan di bidang pendidikan. Banyak masalah pendidikan yang berkaitan erat dengan meledaknya jumlah anak usia sekolah, diantaranya :

  1. Kekurangan kesempatan belajar, untuk mengatasinya dengan menciptakan sistem pendidikan yang dapat menampung sebanyak mungkin anak-anak usia sekolah,
  2. Masalah kualitas pendidikan, untuk mengatasinya pemerintah berusaha meningkatkan kemampuan guru lewat pelatihan, menambah fasilitas, menambah dana pendidikan, mencari sistem mengajar yang tepat, dan sistem evaluasi yang baik sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan secara bertahap,
  3. Masalah relevansi, dalam kondisi sekarang sangat dibutuhkan out put pendidikan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat, terutama dalam hubungannya dengan kesiapan kerja. Hal tersebut lebih jelas dengan digulirkannya konsep link and macth yang salah satu tujuannya mengatasi persoalan relevansi tersebut,
  4. Masalah efisiensi dan keefektifan, pendidikan diusahakan agar memperoleh hasil yang baik dengan biaya dan waktu yang sedikit.

3. Perkembangan ilmu pengetahuan

Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung secara akumulatif dan semakin cepat jalannya, tetapi tidak harus diikuti dengan penambahan kurikulum sekolah di luar kemampuan meskipun kondisi anak didik perlu diperhatikan. Peserta didik pun tidak mungkin mampu mengikuti dan menguasai segenap penemuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan.

4. Tuntutan adanya proses pendidikan yang relevan

Adanya relevansi antara dunia pendidikan dengan kebutuhan masyarakat atau dunia kerja. Pendidikan dapat diperoleh dari sekolah maupun dari luar sekolah. Peranan pendidikan dan tingkat perkembangan manusia merupakan faktor yang dominan terhadap kemampuan untuk menanggapi masalah kehidupan sehari–hari. Tingkat kemajuan suatu bangsa juga dapat ditinjau dari tingkat pendidikan rakyatnya. Semakin baik tingkat pendidikan masyarakat, semakin maju pula bangsanya. Sebaliknya, semakin terpuruk dan rendahnya pendidikan rakyatnya, jangan diharapkan bangsanya akan maju. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa negara-negara maju sangat memperhatikan usaha pendidikan yang sesuai dengan kemajuan yang dicapai.

Sementara itu, di negara-negara yang sedang berkembang pendidikan mulai lebih diperhatikan setelah dalam waktu yang cukup lama kurang terurus sehingga masalah-masalah yang dihadapi pendidikan berlipat ganda dengan kompleksitas yang sangat rumit. Pemecahan masalah–masalah pendidikan yang kompleks itu dengan cara pendekatan pendidikan yang konvensional sudah dianggap tidak efektif lagi. Karena itulah inovasi atau pembaruan pendidikan sebagai perspektif baru dalam dunia kependidikan mulai dirintis sebagai alternatif untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang belum dapat diatasi dengan cara konvensional secara tuntas. Dengan demikian inovasi pendidikan dilakukan untuk memecahkan masalah pendidikan dan menyongsong arah perkembangan dunia kependidikan yang lebih memberikan harapan kemajuan lebih pesat.

 

2.4     Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Inovasi

Faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, dan program/tujuan.

1. Guru

Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai. Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan seperti administrator, misalnya kepala sekolah dan tata usaha serta masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri.

Sehingga dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pendidikan. Tanpa melibatkan mereka, maka sangat mungkin mereka akan menolak inovasi yang diperkenalkan kepada mereka. Hal ini seperti diuraikan sebelumnya, karena mereka menganggap inovasi yang tidak melibatkan mereka adalah bukan miliknya yang harus dilaksanakan, tetapi sebaliknya mereka menganggap akan mengganggu ketenangan dan kelancaran tugas mereka. Oleh karena itu, dalam suatu inovasi pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru mempunyai peran yang luas seperti sebagai pendidik, sebagai orangtua, sebagai teman, sebagai dokter, dan sebagi motivator (Wright 1987).

2. Siswa

Sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan, sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekuen.

Peran siswa dalam inovasi pendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran unsur-unsur lainnya,karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena itu, dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya, siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanakan inovasi tersebut, tetapi juga mengurangi resistensi seperti yang diuraikan sebelumnya.

3. Kurikulum

Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi pendidikan, kurikulum memegang peranan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program-program yang ada di dalamnya, maka inovasi pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam pembaharuan pendidikan, perubahan itu hendaknya sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti dengan pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari kedua-duanya akan berjalan searah.

4. Fasilitas

Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembaharuan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembaharuan pendidikan. Oleh karena itu, jika dalam menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu diperhatikan. Misalnya ketersediaan gedung sekolah, bangku, dan meja.

5. Lingkup Sosial Masyarakat

Menerapkan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negatif, dalam pelaksanaan pembaharuan pendidikan. Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.

 

2.5     Karakteristik Inovasi Pendidikan

Faktor-faktor yang dijadikan pertimbangan pihak adopter (pengguna inovasi) dalam membuat keputusan untuk menerima atau menolak produk suatu inovasi jika dikaitkan dengan pemikiran Everett M. Rogers (1983) dalam diffusion of innovasion dipengaruhi oleh 5 (lima) karakteristik inovasi yaitu :

1. Relative advantage (Keunggulan relatif)

Para adopter akan menilai apakah suatu Inovasi itu relatif menguntungkan atau lebih unggul dibanding yang lainnya atau tidak. Untuk adopter yang menerima secara cepat suatu inovasi, akan melihat inovasi itu sebagai sebuah keunggulan.

Keunggulan relatif adalah derajat dimana suatu inovasi dianggap lebih baik/unggul dari yang pernah ada sebelumnya. Hal ini dapat diukur dari beberapa segi, seperti segi eknomi, prestise social, kenyamanan, kepuasan dan lain-lain. Semakin besar keunggulan relatif dirasakan oleh pengadopsi, semakin cepat inovasi tersebut dapat diadopsi.

2. Compatibility (Kompatibilitas/Konsisten)

Kompatibilitas adalah derajat dimana inovasi tersebut dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu dan kebutuhan pengadopsi. Sebagai contoh, jika suatu inovasi atau ide baru tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, maka inovasi itu tidak dapat diadopsi dengan mudah sebagaimana halnya dengan inovasi yang sesuai (compatible).Adopter juga akan mempertimbangkan pemanfaatan inovasi berdasarkan konsistensinya pada nilai-nilai, pengalaman dan kebutuhannya.

3. Complexity (Kompleksitas/kerumitan)

Kerumitan adalah derajat dimana inovasi dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi tertentu ada yang dengan mudah dapat dimengerti dan digunakan oleh pengadopsi dan ada pula yang sebaliknya. Semakin mudah dipahami dan dimengerti oleh pengadopsi, maka semakin cepat suatu inovasi dapat diadopsi.

Adopter atau pengguna inovasi juga akan menilai tingkat kesulitan atau kompleksitas yang akan dihadapinya jika mereka memanfaatkan inovasi. Artinya bagi individu yang lambat mamahami dan menguasainya tentu akan mengalami tingkat kesulitan lebih tinggi dibanding individu yang cepat memahaminya. Tingkat kesulitan tersebut berhubungan dengan pengetahuan dan kemampuan seseorang untuk mempelajari istilah-istilah dalam inovasi itu.

4. Trialability (Kemampuan untuk dapat diuji)

Kemampuan untuk diuji cobakan adalah derajat dimana suatu inovasi dapat diuji-coba batas tertentu. Suatu inovasi yang dapat di uji-cobakan dalam seting sesungguhnya umumnya akan lebih cepat diadopsi. Jadi, agar dapat dengan cepat diadopsi, suatu inovasi sebaiknya harus mampu menunjukan (mendemonstrasikan) keunggulannya.

Kemampuan untuk dapat diuji bertujuan untuk mengurangi ketidakpastian. Mempunyai kemungkinan untuk diuji coba terlebih dahulu oleh para adopter untuk mengurangi ketidakpastian mereka terhadap inovasi itu.

5. Observability (Kemampuan untuk dapat diamati)

Kemampuan untuk diamati adalah derajat dimana hasil suatu inovasi dapat terlihat oleh orang lain. Semakin mudah seseorang melihat hasil dari suatu inovasi, semakin besar kemungkinan orang atau sekelompok orang tersebut mengadopsi. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin besar keunggulan relatif; kesesuaian (compatibility); kemampuan untuk diuji cobakan dan kemampuan untuk diamati serta semakin kecil kerumitannya, maka semakin cepat kemungkinan inovasi tersebut dapat diadopsi.

Dengan kemampuan untuk diamati akan mendorong adopter untuk memberikan penilaian apakah inovasi itu mampu meningkatkan status sosial mereka di depan orang lain sehingga dirinya akan dianggap sebagai orang yang inovatif.

 

2.5     Kendala-kendala dalam Inovasi Pendidikan

Kendala-kendala yang mempengaruhi keberhasilan usaha inovasi pendidikan menurut Subandiyah (1992:81) adalah:

1. Perkiraan yang tidak tepat terhadap inovasi,

2. Konflik dan motivasi yang kurang sehat,

3. Lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan,

4. Keuangan (financial) yang tidak terpenuhi,

5. Penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi,

6. Kurang adanya hubungan sosial dan publikasi.

Untuk menghindari masalah-masalah tersebut di atas, dan agar mau berubah terutama sikap dan perilaku terhadap perubahan pendidikan yang sedang dan akan dikembangkan, sehingga perubahan dan pembaharuan itu diharapkan dapat berhasil dengan baik, maka guru, administrator, orang tua siswa, dan masyarakat umumnya harus dilibatkan.

 

2.6. Penolakan (Resistance)

Setelah memperhatikan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan suatu inovasi pendidikan, misalnya penolakan para guru tentang adanya perubahan kurikulum dan metode belajar-mengajar, maka perlu kiranya masalah tersebut dibahas. Namun sebelumnya, pengertian tentang resisten itu perlu dijelaskan lebih dahulu. Menurut Cambridge International English Dictionary of English bahwa resistance is to fight against (something or someone) to not be changed by or refuse to accept (something). Berdasarkan definisi disimpulkan penolakan (resistance) itu adalah melawan sesuatu atau seseorang untuk tidak berubah atau diubah atau tidak mau menerima hal tersebut.

Ada beberapa hal mengapa inovasi sering ditolak atau tidak dapat diterima oleh para pelaksana inovasi di lapangan atau di sekolah sebagai berikut:

1. Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan dan bahkan pelaksanaan inovasi tersebut, sehingga ide baru atau inovasi tersebut dianggap oleh guru atau sekolah bukan miliknya, dan merupakan kepunyaan orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan atau kondisi sekolah mereka,

2. Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat sekarang, karena sistem atau metode tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-tahun dan tidak ingin diubah. Di samping itu sistem yang mereka miliki dianggap oleh mereka memberikan rasa aman atau kepuasan serta sudah baik sesuai dengan pikiran mereka. Hal senada diungkapkan pula Day dkk (1987) di mana guru tetap mempertahankan sistem yang ada,

3. Inovasi yang baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat (khususnya Depdiknas) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh guru dan siswa. Hal ini juga diungkapkan oleh Munro (1987) yang mengatakan bahwa mismatch between teacher’s intention and practice is important barrier to the success of the innovatory program,

4. Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat merupakan kecenderungan sebuah proyek di mana segala sesuatunya ditentukan oleh pencipta inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa terhenti kalau proyek itu selesai atau kalau financial dan keuangannya sudah tidak ada lagi. Dengan demikian pihak sekolah atau guru hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para inovator di pusat dan tidak punya wewenang untuk merubahnya,

5. Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan sekolah atau guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum tentu sesuai dengan kemauan mereka dan situasi sekolah mereka.

 

2.7  Pelaksanaan Inovasi Pendidikan

Pelaksanaaan inovasi pendidikan seperti inovasi kurikulum tidak dapat dipisahkan dari inovator dan pelaksana inovasi itu sendiri. Inovasi pendidikan seperti yang dilakukan di Depdiknas yang disponsori oleh lembaga-lembaga asing cenderung merupakan “Top-Down Inovation“. Inovasi ini sengaja diciptakan oleh atasan sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan sebaginya. Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada bawahan dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta itu baik untuk kepentingan bawahannya. Dan bawahan tidak punya otoritas untuk menolak pelaksanaannya.

Banyak contoh inovasi yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Proyek Perintis Sekolah Pembangunan ( PPSP)

Ada delapan IKIP yang ditugaskan untuk menyelenggarakan PPSP, yaitu IKIP Padang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, dan Ujung Pandang. PPSP adalah salah satu proyek dalam rangka program pendidikan yang ditugaskan untuk mengembangkan satu sistem pendidikan dasar dan menengah yang:

a. Efektif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan individu yang diwujudkan melalui program-program pendidikan yang sesuai,

b. Merupakan dasar bagi pendidikan seumur hidup,

c. Efisiensi dan realistis sesuai dengan tingkat kemampuan pembiayaan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah.

Sesuai dengan tugas-tugas yang diemban itu, maka Badan Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan (BP3K) memilih modul sebagai satu sistem penyampaian pada delapan PPSP dengan alasan:

Tujuan pengajaran modul, yaitu:

a. Tujuan pendidikan dan pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien,

b. Menjadikan siswa aktif dalam belajar,

c. Siswa dapat mengikuti pelajaran (program pendidikan) sesuai dengan kemampuan masing-masing,

d. Siswa dapat mengetahui hasil pelajaran secara berkelanjutan.

Ada empat prinsip pengajaran modul yang perlu mendapat perhatian:

a. Keaktifan siswa,

b. Perbedaan individual siswa,

c. Siswa harus memecahkan masalah (problem solving),

d. Continuous progress.

Peran guru sebagai pengelola kegiatan belajar mengajar di kelas, yaitu:

a. Memberikan penjelasan kepada para siswa mengenai modul itu sebelum mereka mulai mengerjakan,

b. Mengawasi kegiatan belajar siswa selama pelajaran berlangsung,

c. Memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada siswa sesuai dengan perbedaan masing-masing siswa,

d. Memberikan penilaian terhadap hasil belajar siswa,

e. Menentukan program yang akan diikuti siswa selanjutnya.

Siswa sebagai pelaksana petunjuk tertulis dalam modul yaitu sebagai pembaca, pemikir, penemu, dan pemecah masalah.

2. Kurikulum 1975

Kurikulum 1975 disetujui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk secara nasional dilaksanakan berahap mulai tahun pengajaran 1976 dengan catatan, bahwa bagi sekolah-sekolah yang menurut penilaian kepala perwakilan telah mampu, diperkenankan melaksanakannya mulai tahun 1975. Ciri-ciri khusus kurikulum 1975 sebagai berikut:

a. Menganut pendekatan yang berorientasi pada tujuan,

b. Menganut pendekatan yang integratif,

c. Pendidikan Moral Pancasila dalam kurikulum ini pencapaiannya juga menyangkut IPS dan pendidikan agama,

d. Menekankan pada efisiensi dan efektivitas penggunaan dana, daya dan waktu yang tersedia,

e. Mengharuskan guru untuk menggunakan teknik penyusunan program pengajaran yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI),

f. Organisasi pelajaran meliputi : agama, bahasa, matematika, IPS, kesenian, olahraga dan kesehatan, keterampilan di samping Pendidikan Moral Pancasila yang tujuannya untuk mencapai sinkronisasi dan integrasi pelajaran yang sekelompok,

g. Pendekatan dalam strategi pembelajaran memandang situasi belajar mengajar sebagai suatu sistem yang meliputi komponen-komponen tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran, alat pembelajaran, alat evaluasi, dan metode pembelajaran,

h. Sistem evaluasi, dilakukan penilaian murid-murid pada setiap akhir satuan pembelajaran terkecil dan memperhitungkan nilai-nilai yang dicapai murid pada setiap akhir satuan pembelajaran.

Prinsip-prinsip yang melandasi:

a. Fleksibelitas program,

b. Efisiensi dan efektivitas,

c. Berorientasi pada tujuan,

d. Kontinuitas,

e. Pendidikan seumur hidup.

Sedangkan tujuan utama Kurikulum 1975 adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Mutu suatu hasil pendidikan dapat dianggap tinggi apabila kemampuan pengetahuan dan sikap yang dimiliki para lulusan berguna bagi perkembangan. Selanjutnya, baik di lembaga pendidikan yang lebih tinggi (bagi yang melanjutkan) maupun yang menjadi tenaga kerja di masyarakat. Sedangkan metode penyampaian kurikulum 1975 ini berdasarkan PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional) yang dikembangkan melalui MSP (Model Satuan Pelajaran) bahan PBM itu sebagai suatu sistem senantiasa harus diarahkan kepada pencapaian tujuan.

3. Proyek Pamong

Proyek ini merupakan program pendidikan bersama antara pemerintah dengan INNOTECH, yaitu lembaga yang didirikan oleh badan kerjasama menteri-menteri pendidikan Asia Tenggara. Pamong singkatan dari Pendidikan Anak oleh Masyarakat, Orang tua, dan Guru. Proyek Pamong diadakan dengan latar belakang bahwa hampir separo dari jumlah anak-anak di Asia Tenggara tidak dapat menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Dasar. Tujuan dari proyek Pamong, yaitu:

a. Membantu anak-anak yang tidak sepenuhnya dapat mengikuti pendidikan sekolah, atau membantu siswa yang drop out,

b. Membantu anak–anak yang tidak mau terikat oleh tempat dan waktu dalam belajar,

c. Mengurangi penggunaan tenaga guru sehingga rasio guru terhadap murid dapat menjadi 1 : 200. Pada SD biasa 1 : 40 atau 1 : 50,

d. Dengan meningkatkan pemerataan kesempatan belajar, dengan pembiayaan yang sedikit dapat ditampung sebanyak mungkin siswa.

Tujuan proyek ini untuk menemukan alternatif sistem penyampaian pendidikan dasar yang bersifat efektif, ekonomis dan merata yang sesuai dengan kondisi kebanyakan daerah di Indonesia. Jadi sistem pamong ini anak-anak/siswa dapat belajar sendiri dengan bimbingan tutor/anggota masyarakat, serta orang tua. Pengajaran yang diberikan menghasilkan kesanggupan anak.

4. SMP Terbuka

SMP terbuka adalah sekolah Menengah Umum Tingkat Pertama, yang kegiatan belajarnya sebagian besar diselenggarakan di luar gedung sekolah dengan cara penyampaian pelajaran melalui berbagai media, dan interaksi yang terbatas antara guru dan murid. Latar belakang pendirian SMPT adalah:

a. Kekurangan fasilitas pendidikan dan tempat belajar,

b. Tenaga pendidikan yang tak cukup,

c. Memperluas kesempatan belajar dalam rangka pemerataan pendidikan,

d. Menanggulangi anak terlantar yang tidak diterima di SMP Negeri.

Dalam penyelenggaraannya SMPT berinduk ke SMP Negeri atau Swasta yang ditunjuk sebagai SMP Induk. Ciri – ciri SMPT:

a. Terbuka bagi siswa tanpa pembatasan umur dan tanpa syarat–syarat akademis yang ketat,

b. Terbuka dalam memilih program belajar untuk mencapai ijazah formal, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jangka pendek yang bersifat praktis, insidental dan perorangan,

c. Terbuka dalam proses belajar mengajar tidak selalu diselenggarakan di ruang kelas secara tatap muka, melainkan dapat juga melalui media, seperti radio, media cetak, kaset, slide, model dan gambar-gambar,

d. Terbuka dalam keluar masuk sekolah sesuai dengan waktu yang tersedia oleh siswa,

e. Terbuka dalam pengelolaan sekolah.

Tugas SMPT untuk memperluas kesempatan belajar dalam rangka pemerataan pendidikan bagi lulusan SD atau sederajat , atau siswa SMP yang putus sekolah.

5. Kuliah Kerja Nyata (KKN)

Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1974 tentang REPELITA II, bagian III Bab XXII tercantum pola dasar KKN dan pengertiannya. KKN adalah salah satu bentuk pengintegrasian antara pengabdian pada masyarakat dengan pendidikan dan penelitian, yang terutama oleh mahasiswa dengan bimbingan perguruan tinggi dan pemerintah daerah, dilaksanakan secara interdisipliner dan intrakurikuler. Atau lebih konkretnya KKN adalah kegiatan perkuliahan dalam bentuk pengabdian masyarakat yang berkaitan dengan program pendidikan perguruan tinggi secara keseluruhan. Ada empat komponen penting dalam KKN :

a. Sebagai kegiatan penalaran,

b. Sebagai aktivitas penelitian,

c. Mengandung unsur pengembangan,

d. Pengabdian pada masyarakat.

6. Universitas Terbuka

Sebagai upaya meningkatkan daya tampung perguruan tinggi maka pemerintah (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) mendirikan Universitas Terbuka (UT).Sistem belajar UT menyediakan pelayanan pendidikan dengan Sistem Belajar Jarak Jauh (SBJJ). Kegiatan belajar mengajar di UT meliputi kegiatan belajar mengajar mandiri (kegiatan belajar utama mahasiswa), kegiatan belajar kelompok antar mahasiswa (merupakan kegiatan belajar tambahan) dan kegiatan belajar tatap muka antara mahasiswa dan tutor.

7. Radio Pendidikan

Tujuannya radio pendidikan:

a. Menunjang penataran tatap muka yang diselenggarakan oleh Proyek Pembinaan Sekolah Dasa,

b. Memperkaya sumber belajar maupun bahan-bahan penataran yang ada, menjaga kesinambungan pembinaan kemampuan, serta memantapkan penataran yang telah diikuti oleh para guru di lapangan.

c. Meningkatkan penyebaran penataran guru secara lebih merata cepat ke daerah-daerah yang sukar dijangkau secara fisik,

d. Mendorong tercapainya prinsip belajar seumur hidup bagi guru,

e. Menjalin terpeliharanya kontak antar sesama guru, dan antara guru dengan sumber belajar, dalam hal ini para pengasuh siaran radio pendidikan.

8. Televisi Pendidikan

Tujuan televisi pendidikan adalah untuk mengembangkan program-program pendidikan luar sekolah dengan cara menyebarkan pesan-pesan yang tematis agar masyarakat memiliki pengetahuan dan sikap yang tepat, khususnya mengenai pendidikan kesejahteraan keluarga, pendidikan mata pencaharian, dan pendidikan alam dan lingkungan hidup.

9. Sekolah Unggulan

Kelahiran sekolah unggulan termasuk SMU plus dan yang bercirikan unggulan lainnya pada dasarnya tidak terlepas dari upaya peningkatan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia. Salah satu tujuan sekolah unggul adalah menjaring dan sekaligus mengembangkan kader bangsa yang baik, sehingga memiliki kelebihan dalam berbagai aspek dibandingkan kader-kader bangsa pada umumnya sehingga mampu mengantisipasi dan menjawab berbagai tantangan zaman.

10. Kurikulum 1984

Ketentuan–ketentuan Kurikulum 1984 yakni:

a. Sifatnya content based curriculum,

b. Pada SD program pengajarannya 11 bidang studi,

c. Untuk SMP menjadi 12 bidang studi,

d. Untuk SMA menjadi 15 bidang studi program inti dan 4 bidang studi untuk program pilihan.

11. Kurikulum 1994

Ketentuan-ketentuan Kurikulum 1994 yakni:

a. Sifatnya objectif based curricullum,

b. Nama SMP diubah menjadi SLTP dan SMA menjadi SLTA,

c. Mata pelajaran PSBB dihapus,

d. Pada SD dan SLTP disusun dalam 13 mata pelajaran,

e. Program pelajaran SMU disusun dalam 10 mata pelajaran,

f. Penjurusan SMA / SMU dilakukan di kelas II, terdiri dari program IPA, IPS dan Pengetahuan Bahasa.

Ketika reformasi bergulir tahun 1998 kurikulum 1994 mengalami penyesuaian dalam rangka mengakomodasi tuntutan masyarakat pendidikan sehingga munculnya istilah suplemen kurikulum 1994 yang lahirnya pada tahun 1999. Pada saat ini ada penyesuaian isi utamanya mata pelajaran PPKN, Sejarah, dan beberapa mata pelajaran lainnya. Bahkan pada tahun 2003 lahir Undang-Undang Pendidikan no 20. tahun 2003 yang disiapkan untuk mengganti Undang-Undang Pendidikan no.2 tahun 1989 yang disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

12. Kurikulum 2004

Kurikulum tahun 2004 ini disebut juga Kurikulum Berbasis Kompetensi, diharapkan kurikulum ini mampu menjawab problematika seputar rendahnya mutu pendidikan dewasa ini. Karena itu dalam KBK peserta didik diarahkan untuk menguasai sejumlah kompetensi sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

Ketentuan KBK mengarah sebagai berikut :

a. Bersifat competency based curricullum,

b. Penyebutan SLTP kembali menjadi SMP dan SMU menjadi SMA,

c. Program pengajaran SD ada 7 mata pelajaran,

d. Program pengajaran SMP ada 11 mata pelajaran,

e. Program pengajaran SMA ada 17 mata pelajaran,

f. Penjurusan SMA dimulai kelas ii, terdiri dari Ilmu Alam, Sosial, dan Bahasa.

Beberapa kritikan terhadap kurikulum ini terjadi kendatipun telah dilakukan pilot project di beberapa daerah, yakni:

a. Masih sarat dengan materi, guru dikejar –kejar dengan materi yang banyak seperti Kurikulum 1994,

b. Pemerintah terlalu intervensi terhadap kewenangan sekolah dan guru dalam pengembangan kurikulum tersebut,

c. Masih belum jelas (bias) pengertian kompetensi sehingga ketika diterapkan pada SKL belum terlalu aplikatif,

d. Adanya sistem penilaian yang belum begitu jelas dan terukur.

13. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

KTSP merupakan kelanjutan atau revisi dan pengembangan dari kurikulum berbasis kompetensi atau KBK. KTSP lahir karena masih dianggap sarat dengan beban belajar dan pemerintah pusat (Depdiknas) masih dipandang banyak intervensi dalam pengembangan kurikulum, karena itulah dalam KTSP beban belajar siswa sedikit dikurangi. Diharapkan Kepala Sekolah, guru, dan Komite satuan pendidikan diberi kewenangan penuh membuat kurikulum tingkat satuan pendidikan masing–masing dengan standar yang sudah ada.

Justru tugas kepala Satuan Pendidikan berupaya membuat KTSP masing–masing dengan mengembangkan kurikulum mereka sesuai dengan karakteristiknya, begitu juga membuat indikator, silabus, serta RPP dan komponen kurikulum lainnya. Bagi Madrasah tentunya menyesuaikan ciri khasnya madrasah yaitu ciri khas agama Islam dengan melaksanakan pendidikan agama Islam dengan kelompok mata pelajaran adalah Aqidah Akhlak, Fiqh, Qur’an Hadits, dan SKI dan ditambah Bahasa Arab.

14. Pendidikan Pramuka untuk Transmigrasi

Proyek ini dimulai sejak tahun 1970 di Jombang Jawa Timur. Tujuannya adalah menjadikan penduduk desa agar menaruh minat terhadap pembangunan dan mengurangi minat penduduk untuk pindah ke kota. Mereka yang mendapat pendidikan pramuka adalah para pemuda yang berumur antara 6–25 tahun yang diminta agar bersedia bertransmigrasi ke luar Jawa. Latihan yang diberikan di bidang peternakan, pertanian, irigasi, panen padi serta mengolah dan menjual beras.

15. Pusat Kegiatan Belajar

Proyek PKB ini dimulai pertengahan tahun 1973. Teknik yang digunakan adalah pengajaran klasikal dengan menggunakan alat-alat audio visual, ceramah, kerja kelompok, bimbingan dan penyuluhan serta pengajaran melalui pemancar radio lokal.

16. BUTSI (Badan Usaha Tenaga Sukarela Indonesia)

Proyek ini dimulai tahun 1969 dengan mengerahkan 30 sukarelawan yang tinggal di desa selama 2 tahun. Tujuannya mempertahankan dan memperkuat gotong royong di kalangan generasi muda.

17. Proyek Pengembangan Sistem Informasi Pendidikan dan Kebudayaan

Proyek ini dimulai tahun 1970 dengan menyempurnakan statistik pendidikan. Selanjutnya tahun 1972 secara intensif mengumpulkan statistik pendidikan yang dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

18. SESPA

Proyek SESPA dimulai tahun 1970, dengan tujuan tercapainya pengertian administrasi dan manajemen. Para peserta SESPA adalah tenaga senior golongan IV yang berusia 35–48 tahun.

19. PROPIDA

Proyek ini sebagian biayanya dibiayai oleh Ford Foundation dengan jangka waktu 2 tahun, berkantor di Padang dan Surabaya ditangani oleh bagian perencanaan Kanwil Depdikbud. Tujuannya terjaminnya hubungan dan kerjasama sebagai perwujudan dari model perencanaan pendidikan secara integral.

20. Pendidikan agama berwawasan multikultural

Indonesia adalah masyarakat majemuk yang terdiri dari beragam agama, budaya sosial dan etnis. Di satu sisi merupakan kekuatan di satu sisi berpotensi terjadinya konflik. Pendidikan ini melalui pendekatan perencanaan sosial. Diharapkan akan mampu melayani kebutuhan agama anak didik dan harmonisasi berbagai pemeluk agama. Tujuannya adalah menanamkan keyakinan, penghayatan, menghargai agama masing-masing, dan menyampaikan pesan-pesan agama melalui kurikulum pendidikan agama.

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Inovasi merupakan perubahan yang direncanakan oleh organisasi dengan kegiatan yang berorientasi pada pengembangan dan penerapan gagasan-gagasan baru agar menjadi kenyataan yang bermanfaat dan menguntungkan. Proses inovasi dapat dianalogikan sebagai proses pemecahan masalah yang di dalamnya terkandung unsur kreativitas. Dalam hal inovasi pendidikan sebagai usaha perubahan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus melibatkan semua unsur yang terkait di dalamnya, seperti inovator, penyelenggara inovasi seperti kepala sekolah, guru dan siswa.

Keberhasilan inovasi pendidikan tidak saja ditentukan oleh satu faktor tertentu saja, tetapi juga oleh masyarakat serta kelengkapan fasilitas. Inovasi pendidikan yang berupa top-down model tidak selamanya berhasil dengan baik. Hal ini disebabkan oleh banyak hal, antara lain adalah penolakan para pelaksana seperti guru yang tidak dilibatkan secara penuh baik dalam perencananaan maupun pelaksanaannya. Sementara itu inovasi yang lebih berupa bottom-up model dianggap sebagai suatu inovasi yang langgeng dan tidak mudah berhenti, karena para pelaksana dan pencipta sama-sama terlibat mulai dari perencanaan sampai pada pelaksanaan. Oleh karena itu, mereka masing-masing bertanggung jawab terhadap keberhasilan suatu inovasi yang mereka ciptakan.

Tantangan di era globalisasi dan informasi perlu dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Harus diakui bahwa keunggulan proses belajar mengajar dapat dikembangkan melalui proses inovasi pendidikan dengan paradigma baru, yaitu pendidikan dengan mendayagunakan SDM, teknologi informasi dan komunikasi. Untuk itu diperlukan suatu penyebarluasan (difusi) agar semua pihak, baik insan pendidikan maupun masyarakat umum dapat terlibat secara langsung melakukan gerakan pembaruan (inovasi) pendidikan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Danim, S. 2002. Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Hamzah, H. 2007. Profesi Kependidikan Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Ihsan, F. 2003. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Massofa. 2008. Perlunya Pembaharuan Pendidikan di Tingkat Makro dan Mikro, (Online), (http://massofa.wordfress.com, diakses 5 Desember 2008).

Noor, I. H. M. 2001. Sebuah Tinjauan Teoritis Tentang Inovasi Pendidikan di Indonesia, (Online), (http://www.pdk.go.id/balitbang/Publikasi/Jurnal/ No_026/sebuah_tinjauan_teoritis_Idris.htm, diakses 25 Desember 2008).

Pengelola Perkuliahan Online Inovasi Pendidikan. 2008. Pengantar Inovasi Pendidikan, (Online), (http://tik.kuliahinovasipendidikan.co.cc, diakses 8 Desember 2008).

Pidarta, M. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Sanaky, H. A. H. 2008. Paradigma Baru Pendidikan Islam, (Online), (http://educare.e;fkipunla.net, diakses 29 November 2008).

Semiawan, 1991. Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI. Jakarta: Grasindo.

Sismanto. 2007. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Manajemen Berbasis Sekolah, (Online), (http://sismanto.multiply.com, diakses 29 November 2008).

Subandijah. 1992. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Yogyakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sudrajat, A. 2008. 6 Mitos tentang Kreativitas, (Online), (http://akhmadsudrajat.wordpress.com, diakses 8 Desember 2008).

Suparno, P. Reformasi Pendidikan Sebuah Rekomendasi . Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Syaban, M. 2008. Proses Asesmen, (Online), (http://educare.e;fkipunla.net, diakses 29 November 2008).

Tilaar, H. A. R. 2000. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: PT Rineka Cipta.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

INOVASI PENDIDIKAN DI INDONESIA

Posted: 31 Januari 2012 in Uncategorized
Perubahan pendidikan dapat terjadi karena berkenaan banyak faktor, diantaranya, apakah perubahan itu berawal dari guru, dari administrator, dan dari masyarakat yang mendapatkan pelayanan pendidikan? Namun mungkin juga disebabkan oleh kondisi dan situasi sekolah yang bersangkutan.
Apakah perubahan pendidikan itu / mengapa pendidikan perlu diubah? Memang perubahan pendidikan itu perlu, namun tidak semuaperubahan itu perlu dan baik. Perubahan pendidikan terjadi karena diawali oleh adanya rasa ketidakpuasan masyarakat atas hasil pendidikan yang sedang atau telah berjalan. Tetapi tidak semua rasa tidak puas itu yang menyebabkan terjadinya perubahan pendidikan. Untuk itu kiranya perlu ditelusuri lebih dalam lagi tentang konsep perubahan itu sendiri.
Di samping guru melakukan kegiatan atau usaha perubahan,juga dituntut melakukan pembaharuan jika perlu. Hal inilah yang disebut inovasi. Inovasi dilakukan apabila guru benar benar memiliki keyakinan bahwa pembaharuan itu memang harus dilakukan dan apakah perlu inovasi pendidikan itu.A.Pengertian Inovasi PendidikanSecara etimologi inovasi berasal dari Kata Latin innovation yang berarti pembaharuan atau perubahan. Kata kerjanya innovo yang artinya memperbaharui dan mengubah inovasi ialah suatu perubahan yang baru menuju kearah perbaikan, yang lain atau berbeda dari yang ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana (tidak secara kebetulan.
Istilah perubahan dan pembaharuan ada pebedaan dan persamaanya. Perbedaannya , kalau pada pembaharuan ada unsur kesengajaan. Persamaannya. Yakni sama sama memilki unsur yang baru atau lain dari yang sebelumnya. Kata “Baru” dapat juga diartikan apa saja yang baru dipahami, diterima, atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi, meskipun bukan baru lagi bagi orang lain. Nemun, setiap yang baru itu belum tentu baik setiap situasi, kondisi dan tempat.
Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau dimati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil intervensi (penemuan baru) atau dicovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau memecahkan masalah pendidikan nasional.
Inovasi (pembaharuan) terkait dengan invention dan discovery. Invention adalah suatu penemuan sesuatu yang benar benar baru, artinya hasil kreasi manusia. Penemuan sesuatu (benda) itu sebelumnya belum pernah ada, kemudian diadakan dengan bentuk kreasi baru. Discovery adalah suatu penemuan (benda), yang benda itu sebenarnya telah ada sebelumnya, tetapi semua belum diketahui orang. Jadi, inovasi adalah usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) baik invention dan discovery.

B.Tujuan Inovasi
Menurut santoso (1974), tujuan utama inovasi, yakni meningkatkan sumber sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi.
Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi,relevansi, kualitas, dan efektivitas. Sarana serta jumlah peserta didik sebanyak banyaknya, denagan hasil pendidikan sebesar besarnya (menurut kriteria kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan pembangunan), dengan jumlah yang sekecil kecilnya.
Kalau di kaji, arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap demi tahap, yaitu :
1.Mengejar ketinggalan ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan kemajuan ilmu dan teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajar dengan kemajuan kemajuan tersebut.
2.Mengembangkan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolahbagi setiap warga negara. Misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi. Di samping itu, akan di usahakan peningkatan mutu yang dirasakan semakin menurun dewasa ini. Dengan sistem penyampaian sistem yang baru, dihaarpkan peserta didik menjadi manusia yang aktif, kreatif, dan terampil memecahkan masalahnya sendiri.

C.Masalah Masalah yang Menuntut Diadakan Inovasi Pendidikan di Indonesia yaitu
1.Perkembangan ilmu pengetahuan menghasilkan kemajuan teknologi yang mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan bangsa Indonesia.
2. Laju eksplosi penduduk yang cukup pesat, yang menyebabkan daya tampung, ruang, dan fasilitas pendidikan yang sangat tidak seimbang.
3. Melonjaknya aspirasi masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, sedangkan dipihak lain kesempatan sangat terbatas.
4. Mutu pendidikan yang dirasakan makin menurun, yang belum mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
5. Belum berkembangnya alat organisasi yang efektif, serta belum tumbuhnya suasana yang subur dalam masyarakat untuk mengadakan perubahan perubahan yang dituntut oleh keadaan sekarang dan yang akan datang.
6. Kurang ada relevansi antara program pendidikan dan kebutuhan masyarakat yang sedang membangun.
7. Keterbatasan dana.
Sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat ini, telah banyak diperkenalkan inovasi inovasi pendidikan dan atau kurikulum yang diadopsi dari luar negeri maupun hasi pemikiran para ilmuan Indonesia sendiri. Semua inovasi tersebut diharapkan dapat memcahkan permasalahan pendidikan yang sedang dialami di Indonesia.

D.Berbagai upaya inovasi pendidikan
1.Proyek perintis sekolah pembangunan
Ada delapan IKIP yang ditugaskanuntuk menyelenggarakan proyek perintisan sekolah pembangunan (PPSP), yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bndung, IKIP Semarang, IKIP Yogyakarta, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Ujung pendang.
Pada mulanya proyek itu dimaksudkan untuk mencoba bentuk sitem persekolahan yang komprehensif dengan nama sekolah pembangunan. Selain itu, secara umum kerangka sistem pendidikan ini digariskan dalam surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 0172 tahu 1974.
Dalam surat keputusan itu terdapat beberapa pokok pikiran mengenai hakikat sekolah pembangunan, yang menyangkut relevansi sekolah dengan kebutuhan masyarakat, yaitu :
a.Adanya integrasi antara sekolah dan masyarakat serta pembangunan
b.Sekolah menghasilkan tenaga terdidik sehingga dapar merupakan tenaga kerja yang produktif.
c.Sekolah menghasilkan tenaga terdidik dengan pengertian kesadaran ekologi, baik lingkungan sosial, fisik, maupun biologis.
d.Sekolah menyelenggarakan pendidikan yang menyenangkan, merangsang sesuai dengan tuntutan zaman untuk pendidikan watak, pengetahuan, kecerdasan, keterampilan, kemampuan, berkomunikasi, dan kesadaran ekologi.
e.Sekolah menciptakan keseimbangan fisik, emosional intelektual, kultural, dan spiritual, serta keseluruhan pembangunan masyarakat.
f.Sekolah memberikan sumbangan bagi ketahanan nasional dan ikut serta dalam pembangunan masyarakat.

PPSP adalah salah satu proyek dalam rangka program pendidikan yang ditugaskan untuk mengembangkan satu sistem pendidikan dasar dan menengah. Modul sesuai denan tugas yang diemban itu maka badan penelitian dan pengembangan kebudayaan (BP3K) memilih modul sebagai satu sistem penyampaian pada delapan PPSP, dengan alasan :
a.Modul mempunyai potensi untuk memcahkan masalah pemerataan, pendidikan, karena modul memungkinkan murid belajar sendiri tanpa tergantung tempat dan waktu.
b.Modul mempunyai potensi untuk meningkatkan mutu pendidikan.
c.Modul mempunyai potensi untuk meningkatkan relevansi pendidikan.
d.Modul mempunyai potensi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan waktu dan fasilitas sebab dengan modul memungkinkan guru membantu dan memperbaiki siswa selama dia belajar.

Semua itu dilihat dari tujuan pengajaran modul, yaitu :
a.Tujuan pendidikan dan pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien
b.Menjadi siswa aktif dalam belajar.
c.Siswa dapat bekerja sendiri, baik dibantu oleh guru maupun tidak.
d.Siswa dapat mengikuti pelajaran (program pendidikan) sesuai dengan kemampuan masing masing.
e.Siswa dapt mengetahui hasil pelajaran secara berkelanjutan.
Ada empat macam tes, dalam pelaksanaan kurikulum ini, yaitu tes formatif, sumatif, placement test, dan tes diagnostik. Adapun prinsip prinsip yang melandasi dalam menyusun dan membakukan kurikulum tersebut digunakan beberapa prinsip yang memungkinkan sistem pendidikan pada setiap program (SD, SLTP, SLTA), benar benar efisien dan efektif, yaitu ;

1.Fleksibilitas program
Penyelenggaraan pendidikan keterampilan pada setiap program harus mengingat faktor faktor ekosistem dan kemampuan pemerintah, masyarakat, serta orang tua untuk menyediakan dana bagi kelangsungan bidang studi tersebut.
2.Efisiensi dan efektivitas
Yang dimaksud dengan prnsip efisiensi dalam penggunaan waktu, pendayahgunaan dana, dan tenaga secara optimal.
3.Berorientasi pada tujuan
Kurikulum 1975mempunyai empat macam tujuan menurut hierarkinya, yaitu :
a.Tujuan umum ialah tujuan pendidikan nasional
b.Tujuan instusionalnya ialah tujuan untuk setiap lembaga tingkatan pendidikan, seperti tujuan SD, SLTP, dan SLTA.
c.Tujuan kurikuler ialah tujuan untuk setiap bidang studi seperti tujuan mata pelajaran bahasa Indonesia, PMP, PSPB, IPA.
d.Tujuan instruksional ialah tujuan setiap pokok bahasan (satuan bahasa)
4.kontinuitas

GBHN menyatakan, pendidikan adalah proses yang berlangsung seumur hidup. Sekolah dasar dan sekolah menengah (pertama dan atas) adalah sekolah sekolah umum, yang masing masing fungsinya dinyatakan dalam tujuan institusional. Namun, kurikulum satu jenjang pendidikan dengan yang di atasnya berhubungan secara hierarkis (hubungan vertical). Oleh karena itu, dalam menyusun kurikulum, ketiga jenjang sekolah tersebut hendaknya selalu dihubungkan secara hierarkis dan fungsional
5.Pendidikan seumur hidup

Pendidikan yang diterima anak di sekolah memnerikan dasar/bekal untuk belajar hidup, sehingga memungkinkan seseorang meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sertamengembangkan potensi potensinya sesuai dengan kebutuhan kehidupannya.
PAMONG singkatan dari pendidikan anak oleh masyarakat, orang tua, dan guru. Proyek ini diujikan di tingkat sekolah dasar pada kecamatan kabakramat (kelurahan alastimo, banjarhardjo, malanggaten dan kebak) di kabupaten karanganyar, solo. Tujuan proyek ini adalah :
a.Membantu anak anak yang tidak sepenuhnya dapat mengikuti pendidikan di sekolah atau membantu siswa yang drop out.
b.Membantu anak anak yang tidak mau terikat oleh tempat dan waktu dalam belajar, oleh karena belajar sambil menggembala ternak, waktu istirahat, dan lain lain.
c.Mengurangi penggunaan tenaga guru sehingga rasio guru terhadap murid menjadi 1:1200. Pada SD biasa 1:40 atau 1:50.
d.Dengan meningkatkan pemerataan kesempatan belajar, dengan pembiayaan yang sedikit dapat ditampung sebanyak mungkin siswa.

Jadi dengan system pamong ini anak anak/siswa dapat belajar sendiri dengan bimbingan tutor, atau anggota masyarakat, serta bimbingan orang tua. Pengajaran yang diberikan memperhatikan kesanggupan anak.
Pengelolaan dari pegalaman belajar yang diperoleh terutama berdasarkan sumber sumber lain (bukan guru) sukar, tetapi melalui masyarakat, siaran pendidikan adan kelompok atau kegiatan belajar yang tidak mememrlukan gudang sekolah.

2.SMP Terbuka
Sekolah menengah pertama terbuaka (SMPT) adalah sekolah menengah umum tingkat pertama, yang kegiatan belajarnya sebagian besar diselenggaraka di luar gedung sekolah dengan cara pelajaran melalui berbagai media, dan interaksi yang terbatas antara guru dan murid.
a.Latar belakang
 Kekurangan fasilitas belajar dan tempat belajar.
 Tenaga pendidikan yang tidak cukup.
 Memperluas kesempatan belajar dalam rangka pemerataan pendidikan.
 Menanggulangi anak terlantar yang tidak diterima di SMP Negeri.
b.Ciri ciri
 Terbuka bagi siswa tanpa pembatasan umur dan tanpa syarat syarat akademis yang ketat.
 Terbuka dalam memilih program belajar untuk mencapai ijazah formal, atau memenuhi kebutuhan kebutuhan jangka pendek yang bersifat praktis, insidental, dan perorangan.
 Terbuka dalam proses belajar mengajar tidak selalu diselenggarankan diruang kelas secara tatap muka, melainkan dapat juga melalui media, secara radio, media cetak, kaset, slide, dan gambar gambar.
 Terbuka dalam keluar masuk sekolah sesuai dengan waktu yang tersedia oleh siswa.
 Terbuka dalam mengelola sekolah. Sekolah dikelola oleg pegawa negeri, dan orang orang lain yang diperlukan partisipasinya, seperti warga dan pimpinan masyarakat, orang tua siswa dan pamong pemerintah setempat.
c.Tujuan
 Menjadi warga negara yang baik sebagai manusia yang utuh sehat dan kuat, lahir, dan batin.
 Menguasai hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dan pendidikan di sekolah dasar.
 Memiliki bekal untuk melanjutkan pelajarannya ke sekolah lanjutan atas dan untuk terjun ke masyarakat.
 Meningkatkan disiplinm siswa.
 Menilai kemajuan siswa dan memantapkan hasil pelajaran dengan media.

E.Pembaruan sistem pendidikan tenaga kependidikan
1.Rasional pembaruan
Dalam repelita III di bidang kependidikan (pendidikan dan keguruan) dikembangkan sistem pendidikan tenaga kependidikan (SPTK), yang berdasarkan kepada kebijaksanaan dasar pengembangan pendidikan tinggi (KDPPT), yang dikukuhkan dengan keputusan menteri P dan K No. 0140/U/1975 dan keranngka pengembangan pendidikan tinggi tahun 1976.

2.Tujuan dan sasaran pembaruan
Pembaruan sistem pendidikan tenaga kependidikan diarahkan untuk menunjang pembangunan bangsa pada khususnya dan peningkatan kwalitas hidup manusia pada umumnya. Dengan demikian, sasaran sasaran pendidikan temaga kependidikan sebagai berikut :
a.Pengadaan tenaga kerja kependidikan dalam jumlah dan kualifikasi yang tepat
b.Pengembangan dan pembaruan ilmu kependidikan
c.Perencanaan dan pengembangan terpadu.
d.School base management

Keempat masalah pokok yang secara potensial menghambat kwalitas pendidikan dasar, yaitu ;
a.Kompleksnya pengorganisasian sekolah dasar dimana dua departemen berperan sama kuat yaitu departemen pendidikan dan kebudayaan (bertanggung jawab menteri pendidikan dan kwalitas teknis seperti : kurikulum, kualifikasi dan sertifikasi, guru, testing, evaluasi buku teks dan kelayakan bahan bahan ajar), dan departemen dalam negeri (bertanggung jawab akan ketenagakerjaan, material, dan sumber daya lainnyayang biasanya disebut “3M”, termasuk pengadaan dan penempatan guru, bangunan sekolah, dan semua aspek fisik sekolah). Praktek pengelolaan yang memisahkan fungsi teknik-edukatif dan fungsi administratif sumber daya seperti ini tidak efisien, minimal pada empat elemen berikut :
 Pengeluaran untuk peningkatan kwalitas pendidikan menjadi terabaikan karena berada di luar lingkup kedua departemen untuk mencari sumberdayanya.
 Peningkatan kwalitas menjadi terhambat karena perlengkapan yang tersedia oleh kantor dinas sering tidak sesuai dengan kebutuhan atau permintaan sekolah.
 Karir guru sering tidak menentu karena promosi dari guru SD umtuk menjadi guru SLTP harus melibatkan dua departemen. Selain itu promosi dan pemindahan guru atau kepala sekolah SD sering diputuskan secara sepihak oleh dinas tanpa mengacu pada penilaian yang dibuat oleh depdikbud
 Dualisme pengadministrasian ini, pada akhirnya tidak memberikan iklim yang kondusif untuk melakukan koordinasi kebijakan, perencanaan, dan pelaksanaan dalam rangka mencapai tujuan wajib belajar pendidikan dasar.

b.Praktek manajemen yang terlalu sentralistik pada tingkat SLTP. Meskipun tanggung jawab pengelolaan SLTP sepenuhnya berada pada departemen pendidikan dan kebudayaan, praktek yang sangat sentralistik atas program pembiayaan dan perencanaan investasi dirasakan menghambat pencapaian tujuan wajar pendidikan dasar. Dengan pengelolaan seperti ini, kerja efisien pada SLTP akan sulit terwujud mengingat kesuksesan perluasan wajar SD telah melalui pengelolaan desentralistik.

c.Praktek penganggaran yang terkotak kotaknya dan kaku. Disamping sistem organisasinya yang kompleks,komponen ini menambah rumitnya penggelolaan pendidikan dasar. Anggaran pembangunan atau yang biasanya disebut DIP disiapkan oleh tiga unit yaitu bappenas, depdikbud, dan depdagri, sedangkan anggaran rutin yang biasanya disebut DIK disiapkan oleh depkeu, depdikbud dan depdagri. Dalam prakteknya masing masing anggaran mempunyai aturan tersendiri, sehingga yang terjadi antara lain perencanaan, reviu, dan persetujuan anggaran memakan waktu satu tahun dan tidak ada fleksibilitas dalam realokasi danhja dari satu kategori ke kategori lain, sisa anggaran yang satu tidak bisa digunakan untuk kepentingan kegiatan yang lain, serta informasi tersebar di antara lima departemen (depkeu, bappenas, depdikbud, departemen dalam negeri dan departemen agama), disamping sedikitnya terdapat empat pengadministrasian yaitu ; pusat (depdikbud dan depdagri), propinsi (kanwil dan dinas tingkat I), kabupatem (kandep dan dinas tingkat II), dan kadang kadang kecamatan (kancam dan dinas kecamatan). Praktek seperti ini memiliki dampak negatif antara lain ;
tidak ada tanggung jawab secara jelas antar unit, tidak ada evaluasi secara reguler terhadap kebutuhan riil yang diperhatikan, dan tidak ada jaminan bahwa dana dialokalosasikan berdasarkan pada asas pemerataan.

d.Manajemen pada tingkat sekolah tidak efektif. Sekolah adalah institusi yang memegang peranan kunci dalam menentukan kualitas pendidikan dasar dan kepala sekolah merupakan pelaku sentral dalam memainkan peranan tersebut. Peningkatan kwalitas sekolah memerlukan kepala sekolah yang mampu ;
 Menjabarkan bahwa sumber daya yang ada adalah guna menyediakan dukungan yang memadai bagi guru, bahan pengajaran yang cukup, dan pemeliharaan fasilitas yang baik.
 Memberikan waktu yang cukup untuk pengelolaan dan pengorganisasian proses instruksional.
 Berkomunikasi secara teratur dengan staf, orang tua, siswa dan masyarakat

F.EQ Dan SQ Dalam Pendidikan
1.EQ
Kesadaran dan pengetahuan tentang emosi memungkinkan kita memulihkan kehidupan dan kesehatan kita, melindungi keluarga kita serta membangun kasih yang langgeng dan meraih pekerjaan dengan sukses.
Emosi dan akal adalah dua bagian dari satu kesatuan. EQ meningkatkan pada ukuran standar kecerdasan otak (IQ). IQ dan EQ adalah sumber daya sinergis tanpa yang satu yang lain tidak akan menjadi sempurna dan efektif.
Sedangkan IQ adalah kemampuan menalarkan permasalahan yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
Untuk menumbuhkan dan meningkatkan EQ dalam diri seseorang ada 10 langkah yang harus diperhatikan, yaitu :
1.utamakan perawatan tubuh
2.carilah perasaan di dalam tubuh bukan di dalam otak
3.bangunlah otot emosional setiap hari dengan meluangkan waktu untuk berfokus pada pengalaman emosional
4.terima semua yang dirasakan
5.buka hati bagi orang lain
6.lakukan hal-hal yang membuat diri kita merasa berguna dan relevan
7.dengarkan dengan empati
8.katakan yang anda rasakan
9.gunakan perubahan sebagai kesempatan untuk tumbuh
10.bawalah humor kemanapun pergi

2.SQ
SQ merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
SQ merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita.
Ada 7 langkah dalam meningkatkan SQ :
1.menyadari dimana saya sekarang.
2.merasakan dengan kuat bahwa saya akan berubah
3.merenungkan apakah ego sendiri dan motivasi sendiri yang paling dalam.
4.menemukan dan mengatasi rintangan.
5.menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju.
6.menetapkan hati pada sebuah jalan.
7.tetap menyadari bahwa ada banyak jalan.
3.Multiple Intelligences.
Dalam Multiple Intelligences, Howard Gardner dalam bukunya Frames Of Mind menyatakan bahwa ada tujuh macam kecerdasan yaitu : (1) kecerdasan linguistik, (2) kecerdasan logis matematis, (3) kecerdasan visual-spasial, (4) kecerdasan musical, (5) kecerdasan kinesketik tubuh, (6) kecerdasan intrapersonal, (7) kecerdasan interpersonal.

G.Perubahan dan Pembaharuan Struktur Program
Secara historis, sistem persekolahan di Indonesia dapat dikaji melalui tiga periode, yaitu zaman pemerintahan Hindia Belanda, zaman pemerintahan Jepang, dan zaman pemerintahan Indonesia merdeka.
Sistem pendidikan dan persekolahan didasarkan atas pendidikan rendah, pendidikan menengah umum, maupun pendidikan menengah keguruan.
a.Sekolah rendah bagi anak-anak golongan bumi putra dengan bahasa pengantar, bahasa daerah.
b.Sekolah rendah untuk anak-anak keturunan Eropa dan keturunan Timur Asing.
c.Sekolah kejuruan untuk anak-anak golongan Bumi Putra dengan bahasa pengantar, bahasa daerah.H.Tahap-Tahap Adopsi Inovasi Pendidikan
Di dalam melaksanakan inovasi kurikulum kita tidak dapat terlepas dari faktor-faktor yang terkait dan mempengaruhinya. Dalam kaitan dengan faktor yang mempengaruhi inovasi, Arnold dan Goodloe (1974) mengidentifikasi sembilan faktor yang mereka rasa ada dalam masalah inovasi, yaitu :
1.Inovasi sebagai jawaban terhadap kebutuhan atau masalah pendidikan yang diakui secara lokal.
2.Hubungan antara inovasi dengan masalahnya harus dikenali secara jelas oleh administrator, guru.
3.Inovasi merupakan jawaban yang tepat terhadap suatu masalah.
4.Sekolah setempat membuat dan melakukan inventarisasi yang berarti tentang sumber dalam proyek itu.
5.Staf sekolah harus memahami tentang rasional program inovatif dan mempersiapkannya secara memadai.
6.Pelayanan pelengkap yang memadai membantu guru dalam kelas selama tahap permulaan.
7.Kriteria evaluasi yang memadai bagi inovasi yang diterapkan selama program dilaksanakan sampai diperoleh kesimpulannya.
8.Program inovasi dimulai dari skala yang dapat dijangkau atau dikelola.
9.Pemimpim program yang cakap dan yang secara relatif tetap tidak dapat diganti selama periode penerapan.
Salah satu acuan kita dalam mengadakan inovasi termuat dalam The Austin Project, yang di dalamnya berisi tahap-tahap dalam pelaksanaan usaha inovasi, yaitu :
1.Eksplorasi
Pengadopsian yang potensial mempertimbangkan aspek-aspek inovatif sesungguhnya dengan suatu cara khusus yang tidak egoistic mengenai efek dan perlengkapan yang akan digunakan.
2.Antisipasi
Antisipasi berupa gambaran yang belum menentu tentang peranan yang dimainkan oleh pemakai secara individual dan harapan yang diberikan kepadanya berupa anlisis tentang peranannya dalam hubungan dengan struktur pengajaran.
3.Penanganan (management)
Penanganan adalah ekspresi tentang proses penggunaan inovasi dan penggunaan sumber maupun informasi yang paling baik.
4.Adaptasi (penyesuaian)
Adaptasi adalah upaya eksplorasi penyesuaian dari inovasi terhadap klien di dalam lingkungannya yang berpengaruh secara langsung.
5.Kerjasama (collaboration)
Kerjasama memiliki titik sentral pada peningkatan pengaruh pada klien melalui kerjasama dengan orang lain yang berkepentingan.
6.Perhitungan (extrapolation)
Petunjuk mengenai pemakaian extrapolation tentang keuntungan yang lebih universal dari inovasi meliputi kemungkinan tentang perubahan umum atau penempatan kembali yang disertai suatu alternatif yang kuat. (Oliver, 1997)
Kedudukan agen pembaharu dalam proses inovasi dan difusinya menurut havellock yang dikutip oleh oliver dikatakan, bahwa ada empat cara dasar dalam kaitannya dengan fungsi agen pembaharu, yaitu :
1.Sebagai katalisator
2.Sebagai pemberi pemecahan
3.Sebagai pembantu dalam proses
4.Sebagai penghubung sumber
Havellock menggariskan 6 langkah dalam mengembangkan (mengubah) pendidikan pada saat ini untuk masa depan, yaitu :
Langkah 1 : membangun hebungan antara agen pembaru dengan klien.
Langkah 2 : mendiagnosa masalah
Langkah 3 : mendapat sumber yang relevan
Langkah 4 : memilih cara pemecahan
Langkah 5 :mencari dukungan
Langkah 6 :menstabilkan inovasi dan menghasilkan pembaharuan sendiri.

I.Pengambilan Keputusan Dalam Inovasi Pendidikan
Menurut Ibrahim (1989) pengambilan keputusan yang inovatif melalui 4 langkah, yaitu :
1.Tersedianya berbagai alternatif tentang kegiatan yang harus dilakukan.
2.Tersedianya serangkaian konsekuensi dari setiap alternatif kegiatan.
3.Menyusun urutan konsekuensi dari setiap alternatif.
4.Memilih salah satu alternatif yang paling menguntungkan dan paling mudah dilaksanakan.

Hello world!

Posted: 31 Januari 2012 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.